Jumat, 27 November 2015

SURAT TERAKHIR


Salam berpisah untukmu.. Maaf kuucapkan setulusnya apa yang terjadi
Tidak bisa menjaga rasa ini adalah kesalahan yang mungkin sudah kuperkirakan, sebesar apapun usahaku, setinggi apapun aku membentengi diriku sendiri. Ini adalah anugerah yang datang ketika tuannya tak berada ditempatnya.
Maaf karena hati tak bisa sembunyikan rasa manisnya dibalik keterbiasaan. Penghindaran adalah kata yang masih ku usahakan dilaksanakan. Apa dayanya, hati akhirnya bicara dengan bantuan tangan yang sudah lama tidak bersahabat. Mungkin ini adalah baitan surat terakhir yang ku peruntukkan untukmu. Karena cinta yang kupendam bukanlah milikku yang harus kau miiki jua. Aku tahu bahw cinta ini adalah bumerang yang siap meledak didepanmu dan membuatmu membuatakan mata. Aku tahu itu, bahwa cintaku tidak cocok untuk keadaan kita. Maka mari berpisah tanpa pertemuan. Dan mari saling meniadakan meski mata masih saling memandang.
Disaat waktu itu, aku percaya bahwa aku akan menghilangkanya karena sesuatu yang wajib aku puja dan taati. Untuk waktu dan tempat yang kini masih kita tempati, berikan aku waktu untuk tetap mengenang .
Diwaktu dulu, bukan tujuanku memunculKannya, tapi ada daya. Hati memebawa bingkisan yang membuat otak seLalu berpikir dan merindu. Aku akan beusaha menjadi teman seperti posisi yang dulu aku suka.  “Maka mari saling meniadakan meski mata masih saling memandang”.



For. You

Kamis, 22 Oktober 2015

SEMBARI KU BERFIKIR


Berikan waktu yang sudah kau pakai, aku tak butuh waktu yang kini kau jalani.
Berikan waktu yang kini kau jalani , aku tak butuh waktu yang akan kau jalani.
Berikan waktu yang akan kau jalani, aku tak butuh waktu yang  tidak kau jalani lagi.
Aku tak pinta seluruh waktumu, hanya satu waktu yang ku ingin.
“Bersamamu”
Agar aku dapat selalu dalam kenangmu, dalam rindumu
Sembari ku berfikir
Waktu bukan segalanya, Aku tak butuh semua
Hanya sedetik saja kenangan tertinggal
Kenangan yang tak hingga leburnya
“Bersamamu” saja
Hanya saja, Saja tak cukup waktu berkata
Sembari ku berfikir
Waktumu uang dan waktumu barang
Kenangan pun bisa jadi hayalan

“AKU BOHONG KATA RINDU, AKU MERINDU KATA AKAL”

By. Dama

“Memulai adalah kata indah saat ide tak direstui muncul. Justru kerinduan terhadap makhlukmu adalah ide yang tak dikira memulai yang direstui. Jika memang hari ini adalah kerinduan itu maka memulai adalah tepat pada tempatnya”.
Entahlah, sebatas bergurau bahwa rindu ini hanya kebohongan. Jauh di ruang yang tak pernah terbatas kepadaNya dia mengadu pada akal. “Aku akan berbohong aku datang” kata rindu begitu. “Kau adalah sama denganku dan kini aku merindu” jawab akal. “Bukan, akulah yang paling benar dari seluruh logika, hati punya kepastian dalam pembenaran” Tolak rindu. “Kau memang benar rindu, tapi tempatmu adalah tempat kebohongan selalu ada, akal selalu mencari kebenaran tapi ditempatmu selalu mencari pembenaran dan tidak kau kira bahkan setiap saat kini kau menduga kebenaran yang pasti salah.
Perdebatan semakin panjang ketika nafsu memulai duduk diantara keduanya.”Sudahlah kawan, sebenarnya kalian sama hanya saja kalian masih sama-sama tidak menerima apa yang masing-masing kalian katakan. Akal, kau telah merindu tapi kau bilang bohong, Rindu kau bilang bohong ketika kau rindu. Kalian sama dalam satu perasaan jadi ikutlah aku untuk tunjukkan apa arti rindu”. Kini akal dan rindu saling menatap dan mulai berdiskusi. Kata akal “Maafkan aku nafsu, kami memang tidak dapat simpulkan dan mengikutimu. Tapi terimakasih kau telah memberi petunjuk kepada kami bahwa kami kira, kami telah masuk dalam ruangnya yang membingungkan. Hingga kami tidak bisa bedakan berbohong atau tidak

Selasa, 25 Agustus 2015

Syair Kehidupan



         Selalu berterimakasih dan bersyukur pada setiap keadaan dari kita kecil mulai pendidikan SD/MI kita semua sudah dihadapkan dengan berbagai masalah ,entah itu masalah kecil ataupun besar,
apa kalian ingat masalah itu? pastinya satu diantaranya masih diingat. Entah itu masalah teman, keluarga bahkan asrama eh*asmara. Begini ini begitu sempurnanya sang Maha Pencipta merangkai alur kehidupan makhlukNya. Kita bisa apa tanpa tangan dari orang orang disekitar kita yang dihadirkan oleh-Nya untuk melengkapi kehidupan kita.
Seperti yang di alami berbagai macam masalah remaja saat ini adalah asrama *eh asmara bukankah itu menjadi ajang yang sebenarnya hakikat mencinta dan dicinta akan hadir dan tiba pada saatnya , tapi ada yang bilang jodoh itu harus dijemput, menjemputnya harus dengan cara yang bagaimana dulu? kang mbak ? :) saya sendiri belum fahammm..
Oh iya ada lagi bicara masalah kehidupan tidak cuma itu saja, saya ambil bagian kecil dari kehidupan sehari hari, tapi besyukur dan berterimakasih dulu sama mereka yang ada dikehidupan sampean ya, begini dalam hidup pasti ada kan yang benci dan suka terhadap hidup kita atau gaya hidup kita, itu semua baik sebenarnya tapi menyikapinya yang sulit *bagi saya sendiri belum bisa)
Pertama orang yang benci sama kita, apapun yang kita lakukan sebaik apapun itu kalau sudah benci mau apalagi ?tidak akan bernilai, nah kita belajar saja dari masalah ini kalau tidak ada yang membenci kita ,semua mau suka ?ya ga bisa, kita harus belajar dari orang yang membenci kita, dari dia kita bisa belajar lebih sabar lebih cerdas lagi menjaga sikap didepannya, usaha agar dia berubah dan dapat melihat sisi baik seseorang agar tidak melulu dibutakan oleh kebencian, karna pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri, sejenak saya berfikir terhadap apa yang orang benci dari diri kita terkadang memang membawa petunjuk agar kita lebih bisa introspeksi diri dan memperbaiki diri dengan baik, jadi jangan segera terbawa emosi jika ada orang yang mencibir kita karena dia benci sama kita,
Kedua orang yang suka dengan kita, jadi hakikatnya untuk sesosok orang yang suka dengan kita, pasti dia menemukan sebuh kenyamanan dan keistimewaan dalam diri sampean bukan? Kalau tidak dia tak mungkin selalu menjaga kita memberi semangat kita menutupi aib kita dari cibiran orang disekitar kita, bersyukurlah ,kita ambil saja pelajaran dari sini, jangan karena orang yang suka ini,kita jadi besar kepala dan seenaknya berbicara sampai menyakiti hati (ini namanya manusia pasti ada salah dan lupa lupa, tetap berusaha :-) ) ingat orang yang suka dengan kita kadang yang bisa mematahkan hati kita juga *eehh , tapi tetap bersyukur semua orang disekitar kita adalah pelajaran bagi kita, tak ada mereka kita tak dapat merasakan bangkit, berjuang, menangis, tertawa, ikhlas, sabar dan masih banyak lagi . :-)
Oleh. Miratun Nafisah  

Senin, 24 Agustus 2015

KACAMATA HITAM I


Kau tak akan pernah tau apa yang ada dihatinya pada awalnya, suatu ketika waktu itupun datang menyatakan semuanya. Tentangnya, tentang semua di hidupnya dan seberpa besar kunciku jatuh cinta padanya. Bukan wajah tampan macam alliando, fashionable macam kevin julio atau pintar macam dedy corbusier atau apalah yang biasa menjadi penarik sang hawa. Hanya saja apakah ini juga menjadi kunci-kunci yang digunakan untuk banyak gembok? Mereka datang dengan pesona tegap tak menunduk, mencerahkan semua gelap disekeliling mereka dan saat itu datang pada kami sang hawa yang merindukannya. Kami terpesona, apalagi yang bisa kami lakukan?
Kami jelas melihatnya, bukan bayangan yang banyak dilakukan yang lain dengan tipuan. Karena kami bukan buta dengan hal itu, kami tau apa yang harus kami ketahui untuk memilih. Dialah yang bercahaya, menerangi kami dan menuntun kami kepada surgaNya. Lalu apa yang lain punya? Kami pernah melihatnya—cahaya itu. Tapi kami tahu betul bahwa cahaya itu hanya pantulan kaca yang tak abadi ketika kaca itu hancur. Cahaya palsu itu bukan menerangi kami, tapi membutakan mata kami hingga kami tak mendapat pembeda. “Kau bertanya apa yang kami lakukan?”—“Kami tetap melihanya, tapi dengan kaca mata hitam” J. “Apa?”­­­— “Kacamata hitam... iman yang kuat”.
Kami suka mereka yang menghargai kami dengan nilai yang tak ada didunia ini, jauh diatas nilai tertinggi dan lebih rendah dengan yang sang Maha punya nilai. Mereka yang mengimaniNya, menyayangi ibunda ratu, dan menuntun kami. Menuju kemenangan dinasti yang paling jaya. Bukan dinasti yang yeng atau apapun nama dinasti tapi dinasti dengan satu raja, satu ratu, 2 pangeran mahkota dan 2 putri mahkota. 3 syarat yang tersirat bukan untuk menghilangkan yang lain, tapi melengkapinya. Apa guna iman tanpa kasih sayang untuk hawa dan apa guna kasih sayang tanpa iman yang melekat? Hanya sebuah lukisan tanpa gambar dan hanya lampu tanpa cahaya.
Ketika kami sudah menemukan sebagian diantara mereka, bagian dari kami menghilang. Meningggalkan apa yang selama ini menjadi haluan kami. Bukan salah kami, melepas mereka(anggota kami), menjadi penggerak seperti penggoda—itu bukan kami, bukan kami dan sekali lagi bukan salah kami.  Sang hawa hanya ingin dicinta dengan kasihnya, bukan untuk menggodanya. Ketika mereka menuntut sang hawa indah didepannya, itulah yang mereka fikirkan. Melepas mahkota mereka dan menggantinya dengan topi ala boy band, mengganti gaun mereka dengan pakaian PARANTAT PENTURPIS (transparan ketat pendek tur tipis)atau menghilangkan cahaya alami di wajah mereka dengan cat yang lebih berwarna.  Sekarang, kami akui jika sebagian otak kami memang ditakdirkan untuk salah dalam hal ini. Kami percaya bahwa tidak semua diantara mereka menginginkanya, melihat keindahan dengan kesalahan tafsiran anggota kami. Kami percaya bahwa diantara mereka menginginkan keindahan yang begitu sempurna sebagaimana menjadi hambaNya, menjadi sumber pahala yang tak akan habis dengan mencintainya dengan sebelumnya mengikatnya atas namaNya.

ANDA, KAU DAN KAKANDA


Rasionalitas memang tak punya waktu untuk mengatur waktu kapan dia bertahan, menunggu sadarnya insan adalah hal yang sangat membosankan baginya.  Sampai suatu waktu sadarku sebagai insan terbit setelah terbenamnya sekian lama. Mematuhi iman yang kian badan runcingkan, siapa berani berkata iman sempurna jika bukan benar-benar ‘alim. ‘Alim-pun tak berani berkata imannya sempurna.
“Anda” adalah salah satu yang saya hormati, bahkan hingga kini rasa hormat-”ku”kepada anda kian meninggi  ketika anda tuliskan bacaan yang membuat-ku kian memuja. Bukan tampang yang buat muka ini diam terpesona, bukan badan yang buat hati ini berbunga. Hanya ilmu anda yang belum pernah ku lihat mengingat usia anda yang belum terbilang tua. Aku bangga pernah dan mencoba telah mengenal anda. Setidaknya orang sehebat anda pernah mengenalku jua, tahu namaku dan tahu siapa aku. Tapi satu yag anda belum tahu adalah tulisan ini.
Tulisan ini bukan tandaku memuja anda, aku tetap sesalu memuja-Nya seperti anda. Kita sama manusia, sama hamba-Nya, sama dengan satu agama, bedanya hanya saja Aku “me- “ dan anda “di- “ , ini hanya ulasan yang tak dapat kuceritakan pada semua telinga. Aku sadari aku pada pihak yang selalu hampir saru ketika memulai lebih dahulu daripada kaum anda. Memulai saja saru apalagi melebihi dari itu, sedikit saja aku lakukan anda sudah bersua. Memang salah aku akui, maaf jika tingkah kaumku zaman sekarang sudah tak mengenal saru, ya... akanku perbaiki. Aku tau dan anda cukup tau. Aku punya ilmu tak setinggi anda, tapi anda cukup tau bahwa aku belajar pada anda. Anda adalah panutanku, sampai orang sebut namamu saja aku terdiam tuk dengarkan.  Gelembung anganku timbul , anda jadi guru ngajiku tepat didepanku ketika bapak telah menghalalkan.  Anda benarkan bacaanku dan anda jelaskan ilmu agama yang belum kuketahui. Selama waktu ku dengarkan anda mengaji dbalik pintu kamar, ku dengar tawa kecil itu muncul meskipun tipis.mungkinkah anda tau? Ya ... Itulah aku! J
 Setidaknya aku tau bahwa ketika itu rasionalitas telah pergi dari benak.  Anda mungkin telah memuja yang lebih dariku, terpesona dengan yang lebih anggun dan naif. Dan kini rasionalitas telah kembali, membawa  fakta bahwa  itu normal untuk tinggi tangga yang telah anda naiki, karena jika anda ingin terus naik maka yang akan anda pandang adalah anak tangga diatas anda atau anak tangga sedikit dibawah anda, ya bukan?  Dan ketika waktu itu anda tengok tangga jauh dibawah, mataku sekian detik mulai terpengaruh dan setelah itu aku dapat jawaban dari sang Teorema bahwa mungkin kata anda tidak akan berubah menjadi kau ataupun kakanda selama anda masih sebut diri anda “Saya” kepada adekmu ini.
Ku tnggu dibukit panorama.

Kamis, 30 April 2015

BUNDA MAAFKAN DIRI



Maafkan diri jika tidak benar
Diri tau ini salah
Salut jika anggap kurang benar
Diri tahu beban tubuh
Terbata dalam ucap
Tertatih dalam langkah

Diri tahu Bunda menangis di relung
Diri tak ingin eluh jatuh dipipi
Diri tahu apa pikir Bunda
Diri tahu Bunda ikhtiar akan diri
Maafkan diri ini tidak benar bunda....

Jahanam mana yang sanggup diri tanggung
Jika diri tak sanggup ucap maaf pada tubuh
Diri Ingat..
Lama diri tak pandang bunda
Dekat waktu diri sempatkan waktu
Kini hamba datang dengan eluh
Maafkan diri Bunda
Jika waktu sempatkan dirinya
Ku sematkan salah diri dalam sujudku padamu

#Bersambung
                                                                                                                                                                     

Sabtu, 25 April 2015

ILUSI MATA DIBAWAH SENJA

Tenang, itu bukan ilusi.
Itu hanya Tanda peristiwa.
Kadang fikirku Begitu...
Kadang..

Tapi nyatanya,
Itu Bukan Itu
Fikirku panjang
Jika memang begitu

Harap fikir itu begitu
Ya apa daya fikir
Begitu itu tidak harus itu
Jika memang begitu

Lalu itu datang menuju
Fikir itu tanda
Fikir Rindu menuju
Rindu itu begitu

Lalu itu datang lagi
Bawa Rindu dahulu
Fikirku Rindu melabuh
Rindu itu "itu"

Tapi nyatanya,
Itu Bukan itu
Fikirku panjang
Jika memang begitu.

Sabtu, 04 April 2015

Saya seperti mendengar pembicaraan mereka saat ini, dua merpati yang berteduh di jendela salah satu kamar di gedung ini. Apa yang mereka bicarakan ketika berdua sendiri di tengah hujan dihiasi kilauan cahaya seperti lampu disko?Sehingga aku sendiri yang duduk di depan pintu menunggu sebuah pertanyaan datang ingin mengusik mereka. Mereka kepakkan sayap yang basah karena hujan di malam ini, mereka tertawa? Oh tidak semakin aku ingin mengusir mereka. Dahiku mulai mengerut, tapi bibirku seperti melempar senyum entah otot mana yang berani-beraninya menggerakkanya. Tapi" Apa yang membuatku tersenyum ketika hati ingin melempar mereka dengan sebuah batu dan mereka terbang di tengah hujan, mereka terpisah atau salah satu mati karena petir yang ku mohon sangat kejam kepadanya". Hahahaha

KATA LANGIT "Smile"

Kata langit.. "Smile!"
:-) Bulan masih nampak beradu dengan gumpalan awan yang berusaha menutupinya.
Lihatlah dengan rasa kalau bulan ingin berdua denganmu
Sampaikan padanya kalau aku cemburu
Tiadakah ia tengok apa yang ku rasa?
Ku lihat ia memandangmu
Tapi kau hilang rasa padanya
Lihatlah dengan hati ketulusan
Sinarnya mungkin tak dapat menyilaukan
Tapi cahayanya dapat kau buat terang jalan
KuasaNya adalah anugrah
Hingga benda bulat saja punya mata bulat
Syukur adalah caramu melihat
Dzikir adalah caramu memuji


By. DAMA

Rabu, 04 Maret 2015

KERAGUAN 2


Melihat senyum mereka dihari cerah ini, setidaknya keputusanku untuk melihat mereka membuahkan hasil. Hanya dua detik yang aku perlukan untuk membuat salah satu dari mereka tersenyum karenaku. Aku datang dengan kerinduan dan mereka menyambut dengan kasing sayang. 4 jam perjalanan dari tempatku sebelumnya  seperti sebuah lubang hitam yang dapat mengantarkanku pada mereka dalam hitungan detik. Aku seperti lupa dengan lelahku mengendara, lupa dengan lamanya waktu yang telah aku tempuh. Kau tahu bahwa senyum mereka menghilangkan kekhawatiranku padanya. Wajah berseri mereka seperti memperlihatkan bahwa mereka tidak terbebani lagi dengan masalah.
Aku masuk ke dalam bangunan tua usang dengan cat warna hijau muda. Menjelajahi setiap sudut yang lama takku pandang, menghirup aroma rumah ini seperti menghirup aroma mawar dari yang kita cinta. Senyum menebar, kedua sudut bibirku kini naik ke tengah pipi dengan mata yang memerah. “Mandi dulu gih” suaranya yang bagai sutra menyudahi penjelajahan mataku pada rumah kecilku. Aku tersenyum padanya, sebuah kecupan kecil kuhadiahi padanya yang berhati beku penuh amarah sebelum aku beranjak pergi.  Sekarang aku ingat benar apa kerugian atas keraguanku, menahan tujuan yang benar-benar harus aku gapai, setidaknya mencoba kata orang bijak.
Semua kembali segar ketika melihat mereka berkumpul dengan senyum yang mengembang. Seperti tanpa beban, apa yang tetap memberi mereka kekuatan seperti manusia tanpa beban dunia. Dikejar dengan masalah yang sama selama 4 tahun dan mengincar nyawa keluarga kami. Inikah yang disebut sabar? Atau bisa kita pasrah akan takdir darinya? Entah..  Seperti hanya bara api dupa dibawah kaki mereka tapi aku bisa melihat seberapa besar api itu. Memanggang hati mereka dari sisa kehidupan di tempat yang fana ini. Mereka tertidur dengan mata tertutup tapi siapa yang tahu ketika semua mata tertutup secara fisik sebuah kata pencerminan muncul ditengah malam. “Fatimah” suara lembut itu datang dari tempat duduk mereka.  Aku tersenyum sambil menghampiri mereka, sebuah sentuhan lembut menarik lenganku dan mendekap badanku setengah berpelukan, hal yang aku rindukan.  Dan mulailah kami bercerita, Aisyah banyak mengambil bagian dalam perbincanagn kami. Menyelinginya dengan sebuah candaan polos yang membuat kami tertawa lepas. Aku beruntung disamping mereka masih ada adik kecilku yang berjiwa humor. Setidaknya dapat mengurangi beban mereka selama aku masih di banker kecilku.
Aku hanya ambil bagian bertanya dan tertawa. Mendengarkan mereka bercerita dan tersenyum adalah salah satu kebahagiaanku. Mungkin ketika ada sebuah kata terindah didunia dan diakui semua orang untuk pengganti kata “bahagia” aku akan gunakan itu dalam tulisan ini. Sejenak aku berfikir, mungkin ketika kita terlalu khawatir dengan masalah orang lain, justru kitalah yang mempunyai masalah.


Rabu, 04 Februari 2015

KERAGUAN



00:14, kini aku tersadar bahwa aku sekarang sendiri. Disebuah banker yang aku huni selama 6 bulan terakhir. Mataku menatap langit-langit, mencoba menangkap suara dari luar kamar, apakah seorang datang?apakah bisa aku berbincang padanya malam ini?dapatkah dia menghilangkan keheningan ini?. Aku menangkap suara, sekarang aku rasa aku bergerak bangun dari tempat tidurku. Membuka pintu dan mencoba mencari asal suara itu, tidak ada langkah seseorang yang bisa aku lihat disepanjang lorong lantai dua gedung asrama. Hanya lampu depan samping kamarku yang menyinari lorong dua dan beberapa lampu yang menyumbang sedikit cahaya malam ini.  Setidaknya lampu itu mengundang 3 anak kucing bersuara, berlari tepat didepanku berlari seakan mereka saling mengejar. Tak aku sadari senyum mengembang di bibirku, mengingat besok aku akan bertemu dengan mereka. Penyemangat sejatiku, sekaligus sumber kegelisahanku. Kerinduanku pada mereka, seperti ingin aku kubur dalam-dalam. Aku ingin menghindari kesedihan mereka, sehebat apapun mereka menjadi artis pemeran sinetron, au tahu bahwa mereka sedang gelisah memikirkan masalah yang aku tahu masalah ini belum selesai sejak 4 tahun terakhir. Kesakitanku melihat mereka bersedih, kegelisahanku mencari cara menolong mereka seperti dosa yang terus mengejarku. Aku tak mau menerima itu, karena aku tak mau mereka seperti itu, menyiksa hati mereka. Tapi apa yang aku lakukan benar? Kebenaran itu yang harus aku cari.
Aku kembali masuk, membaringkan tubuh kecilku kembali diatas kasur tipis. Kembali kutatap langit, tapi kini dengan kegelapan. 00:21 tertera di jam HP-ku, aku tahu kalau aku harus tidur malam ini. Aku tak mau berfikir tentang kesedihan mereka, membayangkan wajah sedih mereka adalah hukuman terberat untukku. Aku tahu bahwa aku bisa membantu mereka dengan caraku, tapi seperti aku tak mau melakukannya. Entahlah, aku rasa itu bukan salahku dan harus aku tanggung. Ada seseorang yang aku tahu dengan sangat bahwa dialah yang harus menolong mereka. Oh bukan, dia bisa menolong pihak yang menyakiti mereka. Aku juga tahu pihak itu tidak sengaja membuat mereka dalam masalah ini. Tapi setidaknya orang itu tahu bahwa pihak lain itu melakukannya untuknya, untuk kesejahteraanya. Tanpa memikirkan keadaan kami, memikirkan apa yang harus kami lakukan untuk hari esok. Seperti dikejar pemburu kehidupan.
Sekarang dia duduk manis disebauh gedung mewah, memakai pakaian berhias emas. Itu menjijikkan, dengan keadaan mereka yang hanya berpakaian kain putih bernoda. Aku sangat ingat dia berkata akan membahagiakanku dengan keadaanya sekarang tanpa imbalan dariku. Tanpa imbalan dariku? “hem... apa dia pura-pura tidak tahu bahwa kebahagiannya adalah dari mereka yang aku cinta?dan sekarang dia ingin memberikan pada kami apa yang DIA PUNYA” sungguh prolog yang sangat mengesankan misiss nabila. Mungkin aku terlalu berprasangka kepada dia yang polos, aku rasa dia juga merasakan kesedihan mereka, tapi kelakuannya kepada kami adalah sebuah alasan untuk membencinya. Apa yang bisa aku lakukan? Baiklah aku akan bertemu dengan mereka, setidaknya aku bisa menghibur mereka dan mengembangkan senyum indah mereka untuk kami yang sudah lama hilang. ~~~~

Sabtu, 31 Januari 2015

"KACAMATA HITAM"


Kau tak akan pernah tau apa yang ada dihatinya pada awalnya, suatu ketika waktu itupun datang menyatakan semuanya. Tentangnya, tentang semua di hidupnya dan seberpa besar kunciku jatuh cinta padanya. Bukan wajah tampan macam alliando, fashionable macam kevin julio atau pintar macam dedy corbusier atau apalah yang biasa menjadi penarik sang hawa. Hanya saja apakah ini juga menjadi kunci-kunci yang digunakan untuk banyak gembok? Mereka datang dengan pesona tegap tak menunduk, mencerahkan semua gelap disekeliling mereka dan saat itu datang pada kami sang hawa yang merindukannya. Kami terpesona, apalagi yang bisa kami lakukan?
Kami jelas melihatnya, bukan bayangan yang banyak dilakukan yang lain dengan tipuan. Karena kami bukan buta dengan hal itu, kami tau apa yang harus kami ketahui untuk memilih. Dialah yang bercahaya, menerangi kami dan menuntun kami kepada surgaNya. Lalu apa yang lain punya? Kami pernah melihatnya—cahaya itu. Tapi kami tahu betul bahwa cahaya itu hanya pantulan kaca yang tak abadi ketika kaca itu hancur. Cahaya palsu itu bukan menerangi kami, tapi membutakan mata kami hingga kami tak mendapat pembeda. “Kau bertanya apa yang kami lakukan?”—“Kami tetap melihanya, tapi dengan kaca mata hitam” J. “Apa?”­­­— “Kacamata hitam... iman yang kuat”.
Kami suka mereka yang menghargai kami dengan nilai yang tak ada didunia ini, jauh diatas nilai tertinggi dan lebih rendah dengan yang sang Maha punya nilai. Mereka yang mengimaniNya, menyayangi ibunda ratu, dan menuntun kami. Menuju kemenangan dinasti yang paling jaya. Bukan dinasti yang yeng atau apapun nama dinasti tapi dinasti dengan satu raja, satu ratu, 2 pangeran mahkota dan 2 putri mahkota. 3 syarat yang tersirat bukan untuk menghilangkan yang lain, tapi melengkapinya. Apa guna iman tanpa kasih sayang untuk hawa dan apa guna kasih sayang tanpa iman yang melekat? Hanya sebuah lukisan tanpa gambar dan hanya lampu tanpa cahaya.
Ketika kami sudah menemukan sebagian diantara mereka, bagian dari kami menghilang. Meningggalkan apa yang selama ini menjadi haluan kami. Bukan salah kami, melepas mereka(anggota kami), menjadi penggerak seperti penggoda—itu bukan kami, bukan kami dan sekali lagi bukan salah kami.  Sang hawa hanya ingin dicinta dengan kasihnya, bukan untuk menggodanya. Ketika mereka menuntut sang hawa indah didepannya, itulah yang mereka fikirkan. Melepas mahkota mereka dan menggantinya dengan topi ala boy band, mengganti gaun mereka dengan pakaian PARANTAT PENTURPIS (transparan ketat pendek tur tipis)atau menghilangkan cahaya alami di wajah mereka dengan cat yang lebih berwarna.  Sekarang, kami akui jika sebagian otak kami memang ditakdirkan untuk salah dalam hal ini. Kami percaya bahwa tidak semua diantara mereka menginginkanya, melihat keindahan dengan kesalahan tafsiran anggota kami. Kami percaya bahwa diantara mereka menginginkan keindahan yang begitu sempurna sebagaimana menjadi hambaNya, menjadi sumber pahala yang tak akan habis dengan mencintainya dengan sebelumnya mengikatnya atas namaNya.


Sabtu, 10 Januari 2015

BENTENG

Dia berada dibarisan No 2 diantara orang-orang pintar saat itu. Dihari pertamaku menginjakan kaki ditempat penuh ilmu. Seperti wanita biasa yang kagum dengan seorang pria. Pilih hati menjaga mata, tapi kewajiban membuat pilihan itu luntur dengan satu perintah. Usaha hati tidak menjurus pada zina indra ini, dan itu berhasil tapi dengan sisa kagum yang terlanjur masih terpendam dalam hati saat ini. Mereka salah, bukan dia tapi dia. Ketika kagum itu mulai berubah menjadi bumerang, usaha itu berubah pula menjadi benteng yang sangat tinggi bahkan dilapisi api . Seandainya boleh kata hati, bahwa api seperi melindungi musuhnya dengan diri. Dengan air hujan yang selama ini terus turun ke bendungan di dalam benteng, hari ini api itupun padam. Apakah ini akan membuat musuh dari nafsu akan mulai meruntuhkan benteng????

YANG AKAN KU SESALI KARENA MENULISNYA

   Hai, kali ini aku akan menulis curhatanku yang tak berguna. Tema curhatan yang sangat basi dikalangan pembaca yang meyakini bahwa jodoh p...