Senin, 24 Agustus 2015

KACAMATA HITAM I


Kau tak akan pernah tau apa yang ada dihatinya pada awalnya, suatu ketika waktu itupun datang menyatakan semuanya. Tentangnya, tentang semua di hidupnya dan seberpa besar kunciku jatuh cinta padanya. Bukan wajah tampan macam alliando, fashionable macam kevin julio atau pintar macam dedy corbusier atau apalah yang biasa menjadi penarik sang hawa. Hanya saja apakah ini juga menjadi kunci-kunci yang digunakan untuk banyak gembok? Mereka datang dengan pesona tegap tak menunduk, mencerahkan semua gelap disekeliling mereka dan saat itu datang pada kami sang hawa yang merindukannya. Kami terpesona, apalagi yang bisa kami lakukan?
Kami jelas melihatnya, bukan bayangan yang banyak dilakukan yang lain dengan tipuan. Karena kami bukan buta dengan hal itu, kami tau apa yang harus kami ketahui untuk memilih. Dialah yang bercahaya, menerangi kami dan menuntun kami kepada surgaNya. Lalu apa yang lain punya? Kami pernah melihatnya—cahaya itu. Tapi kami tahu betul bahwa cahaya itu hanya pantulan kaca yang tak abadi ketika kaca itu hancur. Cahaya palsu itu bukan menerangi kami, tapi membutakan mata kami hingga kami tak mendapat pembeda. “Kau bertanya apa yang kami lakukan?”—“Kami tetap melihanya, tapi dengan kaca mata hitam” J. “Apa?”­­­— “Kacamata hitam... iman yang kuat”.
Kami suka mereka yang menghargai kami dengan nilai yang tak ada didunia ini, jauh diatas nilai tertinggi dan lebih rendah dengan yang sang Maha punya nilai. Mereka yang mengimaniNya, menyayangi ibunda ratu, dan menuntun kami. Menuju kemenangan dinasti yang paling jaya. Bukan dinasti yang yeng atau apapun nama dinasti tapi dinasti dengan satu raja, satu ratu, 2 pangeran mahkota dan 2 putri mahkota. 3 syarat yang tersirat bukan untuk menghilangkan yang lain, tapi melengkapinya. Apa guna iman tanpa kasih sayang untuk hawa dan apa guna kasih sayang tanpa iman yang melekat? Hanya sebuah lukisan tanpa gambar dan hanya lampu tanpa cahaya.
Ketika kami sudah menemukan sebagian diantara mereka, bagian dari kami menghilang. Meningggalkan apa yang selama ini menjadi haluan kami. Bukan salah kami, melepas mereka(anggota kami), menjadi penggerak seperti penggoda—itu bukan kami, bukan kami dan sekali lagi bukan salah kami.  Sang hawa hanya ingin dicinta dengan kasihnya, bukan untuk menggodanya. Ketika mereka menuntut sang hawa indah didepannya, itulah yang mereka fikirkan. Melepas mahkota mereka dan menggantinya dengan topi ala boy band, mengganti gaun mereka dengan pakaian PARANTAT PENTURPIS (transparan ketat pendek tur tipis)atau menghilangkan cahaya alami di wajah mereka dengan cat yang lebih berwarna.  Sekarang, kami akui jika sebagian otak kami memang ditakdirkan untuk salah dalam hal ini. Kami percaya bahwa tidak semua diantara mereka menginginkanya, melihat keindahan dengan kesalahan tafsiran anggota kami. Kami percaya bahwa diantara mereka menginginkan keindahan yang begitu sempurna sebagaimana menjadi hambaNya, menjadi sumber pahala yang tak akan habis dengan mencintainya dengan sebelumnya mengikatnya atas namaNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

YANG AKAN KU SESALI KARENA MENULISNYA

   Hai, kali ini aku akan menulis curhatanku yang tak berguna. Tema curhatan yang sangat basi dikalangan pembaca yang meyakini bahwa jodoh p...