00:14, kini
aku tersadar bahwa aku sekarang sendiri. Disebuah banker yang aku huni selama 6
bulan terakhir. Mataku menatap langit-langit, mencoba menangkap suara dari luar
kamar, apakah seorang datang?apakah bisa aku berbincang padanya malam
ini?dapatkah dia menghilangkan keheningan ini?. Aku menangkap suara, sekarang
aku rasa aku bergerak bangun dari tempat tidurku. Membuka pintu dan mencoba
mencari asal suara itu, tidak ada langkah seseorang yang bisa aku lihat
disepanjang lorong lantai dua gedung asrama. Hanya lampu depan samping kamarku
yang menyinari lorong dua dan beberapa lampu yang menyumbang sedikit cahaya
malam ini. Setidaknya lampu itu
mengundang 3 anak kucing bersuara, berlari tepat didepanku berlari seakan
mereka saling mengejar. Tak aku sadari senyum mengembang di bibirku, mengingat
besok aku akan bertemu dengan mereka. Penyemangat sejatiku, sekaligus sumber
kegelisahanku. Kerinduanku pada mereka, seperti ingin aku kubur dalam-dalam.
Aku ingin menghindari kesedihan mereka, sehebat apapun mereka menjadi artis
pemeran sinetron, au tahu bahwa mereka sedang gelisah memikirkan masalah yang
aku tahu masalah ini belum selesai sejak 4 tahun terakhir. Kesakitanku melihat
mereka bersedih, kegelisahanku mencari cara menolong mereka seperti dosa yang
terus mengejarku. Aku tak mau menerima itu, karena aku tak mau mereka seperti
itu, menyiksa hati mereka. Tapi apa yang aku lakukan benar? Kebenaran itu yang
harus aku cari.
Aku kembali
masuk, membaringkan tubuh kecilku kembali diatas kasur tipis. Kembali kutatap
langit, tapi kini dengan kegelapan. 00:21 tertera di jam HP-ku, aku tahu kalau
aku harus tidur malam ini. Aku tak mau berfikir tentang kesedihan mereka,
membayangkan wajah sedih mereka adalah hukuman terberat untukku. Aku tahu bahwa
aku bisa membantu mereka dengan caraku, tapi seperti aku tak mau melakukannya.
Entahlah, aku rasa itu bukan salahku dan harus aku tanggung. Ada seseorang yang
aku tahu dengan sangat bahwa dialah yang harus menolong mereka. Oh bukan, dia
bisa menolong pihak yang menyakiti mereka. Aku juga tahu pihak itu tidak
sengaja membuat mereka dalam masalah ini. Tapi setidaknya orang itu tahu bahwa
pihak lain itu melakukannya untuknya, untuk kesejahteraanya. Tanpa memikirkan
keadaan kami, memikirkan apa yang harus kami lakukan untuk hari esok. Seperti
dikejar pemburu kehidupan.
Sekarang dia
duduk manis disebauh gedung mewah, memakai pakaian berhias emas. Itu
menjijikkan, dengan keadaan mereka yang hanya berpakaian kain putih bernoda.
Aku sangat ingat dia berkata akan membahagiakanku dengan keadaanya sekarang
tanpa imbalan dariku. Tanpa imbalan dariku? “hem... apa dia pura-pura tidak
tahu bahwa kebahagiannya adalah dari mereka yang aku cinta?dan sekarang dia
ingin memberikan pada kami apa yang DIA PUNYA” sungguh prolog yang sangat
mengesankan misiss nabila. Mungkin aku terlalu berprasangka kepada dia yang
polos, aku rasa dia juga merasakan kesedihan mereka, tapi kelakuannya kepada
kami adalah sebuah alasan untuk membencinya. Apa yang bisa aku lakukan? Baiklah
aku akan bertemu dengan mereka, setidaknya aku bisa menghibur mereka dan
mengembangkan senyum indah mereka untuk kami yang sudah lama hilang. ~~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar