Rabu, 04 Maret 2015

KERAGUAN 2


Melihat senyum mereka dihari cerah ini, setidaknya keputusanku untuk melihat mereka membuahkan hasil. Hanya dua detik yang aku perlukan untuk membuat salah satu dari mereka tersenyum karenaku. Aku datang dengan kerinduan dan mereka menyambut dengan kasing sayang. 4 jam perjalanan dari tempatku sebelumnya  seperti sebuah lubang hitam yang dapat mengantarkanku pada mereka dalam hitungan detik. Aku seperti lupa dengan lelahku mengendara, lupa dengan lamanya waktu yang telah aku tempuh. Kau tahu bahwa senyum mereka menghilangkan kekhawatiranku padanya. Wajah berseri mereka seperti memperlihatkan bahwa mereka tidak terbebani lagi dengan masalah.
Aku masuk ke dalam bangunan tua usang dengan cat warna hijau muda. Menjelajahi setiap sudut yang lama takku pandang, menghirup aroma rumah ini seperti menghirup aroma mawar dari yang kita cinta. Senyum menebar, kedua sudut bibirku kini naik ke tengah pipi dengan mata yang memerah. “Mandi dulu gih” suaranya yang bagai sutra menyudahi penjelajahan mataku pada rumah kecilku. Aku tersenyum padanya, sebuah kecupan kecil kuhadiahi padanya yang berhati beku penuh amarah sebelum aku beranjak pergi.  Sekarang aku ingat benar apa kerugian atas keraguanku, menahan tujuan yang benar-benar harus aku gapai, setidaknya mencoba kata orang bijak.
Semua kembali segar ketika melihat mereka berkumpul dengan senyum yang mengembang. Seperti tanpa beban, apa yang tetap memberi mereka kekuatan seperti manusia tanpa beban dunia. Dikejar dengan masalah yang sama selama 4 tahun dan mengincar nyawa keluarga kami. Inikah yang disebut sabar? Atau bisa kita pasrah akan takdir darinya? Entah..  Seperti hanya bara api dupa dibawah kaki mereka tapi aku bisa melihat seberapa besar api itu. Memanggang hati mereka dari sisa kehidupan di tempat yang fana ini. Mereka tertidur dengan mata tertutup tapi siapa yang tahu ketika semua mata tertutup secara fisik sebuah kata pencerminan muncul ditengah malam. “Fatimah” suara lembut itu datang dari tempat duduk mereka.  Aku tersenyum sambil menghampiri mereka, sebuah sentuhan lembut menarik lenganku dan mendekap badanku setengah berpelukan, hal yang aku rindukan.  Dan mulailah kami bercerita, Aisyah banyak mengambil bagian dalam perbincanagn kami. Menyelinginya dengan sebuah candaan polos yang membuat kami tertawa lepas. Aku beruntung disamping mereka masih ada adik kecilku yang berjiwa humor. Setidaknya dapat mengurangi beban mereka selama aku masih di banker kecilku.
Aku hanya ambil bagian bertanya dan tertawa. Mendengarkan mereka bercerita dan tersenyum adalah salah satu kebahagiaanku. Mungkin ketika ada sebuah kata terindah didunia dan diakui semua orang untuk pengganti kata “bahagia” aku akan gunakan itu dalam tulisan ini. Sejenak aku berfikir, mungkin ketika kita terlalu khawatir dengan masalah orang lain, justru kitalah yang mempunyai masalah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

YANG AKAN KU SESALI KARENA MENULISNYA

   Hai, kali ini aku akan menulis curhatanku yang tak berguna. Tema curhatan yang sangat basi dikalangan pembaca yang meyakini bahwa jodoh p...