Mereka hidup selayaknya manusia.
Mengandai bahwa mereka punya hati manusia, kebahagiaan pun ditebar. Dengan
senyum merekah tanpa tahu apa yang mereka rasakan. “Senyum adalah ibadah”
adalah prinsip yang mutlak untuk semua orang, tapi lupa bahwa “kesedihan perlu
diringankan”. Dengan senyum ? mungkin benar. Dalam kasus yang saya tahu, senyum
tak serta merta mengurangi kesedihan. Gampangnya, misal saya sedang bersedih
karena nilai ujian mata pelajaran yang selama ini paling getol saya pelajari
malah jeblok. Sebagaimana prinsip “senyum adalah ibadah”, saya tersenyum bagai
tak ada masalah dalam hidup. *Dan saat
itu anda sedang membohongi diri sendiri.
Saya mengenal seseorang yang
benar-benar ceria hampir setiap situasi. Ketika dia dimarahi dia hanya
tersenyum, ketika dia dihianati dia mencari teman baru dan membagi senyumnya,
ketika dia miskin dia menikmati setiap detiknya untuk hal baru, ketika semua
diam dia memecah suasana dengan ceritanya. Tapi dalam situasi yang benar-benar
dia tak dapat tersenyum, dia mencari kawan untuk membuatnya tersenyum. Jika
tidak ada, dia diam merenung sampai ketenangan dan cerianya kembali. Hal ini
yang saya pelajari darinya, tak pernah menyalahkan dan tak pernah mengorbankan.
Dia memberi karena ingin mendapatkan tapi ketika dia tidak mendapatkan dia diam
dan mencari lagi. Terus tanpa amarah yang terpendam. Orang-orang yang mempunyai
alur hubugan seperti diatas cenderung disukai banyak orang tapi juga diirikan
setiap orang. Perubahan dalam hidupnya hanya akan menjadi guncangan tak berarti.
Sedihnya, kebanyakan orang seperti ini memiliki banyak rahasia dan sakit yang
tidak diketahui beberapa temnya.
Dalam kasus lain seseorang yang
anti dengan penghianatan. Berteman dengan semua orang adalah prinsipnya.
Semakin banyak teman maka semakin besar peluangnya berkompromi. Sama-sama
memberi karena ingin mendapatkan. Sesuai dengan apa yang dia benci, penghianatan
sekecil apapun baginya adalah sebuah penghianatan. Menentangnya, membicarakan
kejelekannya, atau bahkan menjadi *kolega orang lain yang lebih baik darinya
terhitung sebuah penghianatan yang dia benci. Ini adalah kejelekanya, bagusnya
manusia ini masih punya sedikit rasa kepemimpinan. Dia berpikir dengan
kebahagiaan orang lain, berusaha membahagiakanya, membuat mereka tersenyum
meskipun kadang kala caranya tidak seperti umumnya. Orang seperti ini seperti lilin, suatu saat
dia akan musnah. Dan kegelapan tidak bisa menolongnya. Selamatkan mereka, dendam adalah senjatanya,
ingatlah bahwa lilin itu dulu mempunyai api. Tidak menutup kemungkinan dia
bangkit dan menghancurkan semuanya.
Ada kalanya keuntungan dapat
saling didapat. Tidak perlu menjadi orang yang selalu tersenyum tanpa tau diri,
tidak perlu jadi lilin yang menyala untuk orang lain. Cari teman yang
benar-benar tak tau malu denganmu bukan
memalukanmu, cari teman yang dapat membuatmu jadi dirimu sendiri bukan jadi
bonekanya, cari teman yang menarikmu baik bukan memperbaikimu, cari teman yang
mengatakan kamu salah bukan menyalahkanmu, cari teman yang mengatakan kamu
benar bukan membenarkanmu. Jadikan mereka kenal dirimu bukan hanya tahu dirimu,
jadikan mereka nyaman tanpa lupa kenyamananmu. Jangan pernah bergantung karena
dapat mengurungmu.
Cerita ini saya tulis dengan
pengetahuan pribadi saya, jadi tidak ada penelitian berarti dalam tulisan ini.
Hanya kenali teman disekitar anda, atau diri anda sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar