Rasionalitas
memang tak punya waktu untuk mengatur waktu kapan dia bertahan, menunggu
sadarnya insan adalah hal yang sangat membosankan baginya. Sampai suatu waktu sadarku sebagai insan
terbit setelah terbenamnya sekian lama. Mematuhi iman yang kian badan
runcingkan, siapa berani berkata iman sempurna jika bukan benar-benar ‘alim.
‘Alim-pun tak berani berkata imannya sempurna.
“Anda”
adalah salah satu yang saya hormati, bahkan hingga kini rasa hormat-”ku”kepada
anda kian meninggi ketika anda tuliskan
bacaan yang membuat-ku kian memuja. Bukan tampang yang buat muka ini diam
terpesona, bukan badan yang buat hati ini berbunga. Hanya ilmu anda yang belum
pernah ku lihat mengingat usia anda yang belum terbilang tua. Aku bangga pernah
dan mencoba telah mengenal anda. Setidaknya orang sehebat anda pernah
mengenalku jua, tahu namaku dan tahu siapa aku. Tapi satu yag anda belum tahu
adalah tulisan ini.
Tulisan
ini bukan tandaku memuja anda, aku tetap sesalu memuja-Nya seperti anda. Kita
sama manusia, sama hamba-Nya, sama dengan satu agama, bedanya hanya saja Aku
“me- “ dan anda “di- “ , ini hanya ulasan yang tak dapat kuceritakan pada semua
telinga. Aku sadari aku pada pihak yang selalu hampir saru ketika memulai lebih
dahulu daripada kaum anda. Memulai saja saru apalagi melebihi dari itu, sedikit
saja aku lakukan anda sudah bersua. Memang salah aku akui, maaf jika tingkah
kaumku zaman sekarang sudah tak mengenal saru, ya... akanku perbaiki. Aku tau
dan anda cukup tau. Aku punya ilmu tak setinggi anda, tapi anda cukup tau bahwa
aku belajar pada anda. Anda adalah panutanku, sampai orang sebut namamu saja
aku terdiam tuk dengarkan. Gelembung
anganku timbul , anda jadi guru ngajiku tepat didepanku ketika bapak telah
menghalalkan. Anda benarkan bacaanku dan
anda jelaskan ilmu agama yang belum kuketahui. Selama waktu ku dengarkan anda
mengaji dbalik pintu kamar, ku dengar tawa kecil itu muncul meskipun tipis.mungkinkah
anda tau? Ya ... Itulah aku! J
Setidaknya aku tau bahwa ketika itu
rasionalitas telah pergi dari benak.
Anda mungkin telah memuja yang lebih dariku, terpesona dengan yang lebih
anggun dan naif. Dan kini rasionalitas telah kembali, membawa fakta bahwa
itu normal untuk tinggi tangga yang telah anda naiki, karena jika anda
ingin terus naik maka yang akan anda pandang adalah anak tangga diatas anda
atau anak tangga sedikit dibawah anda, ya bukan? Dan ketika waktu itu anda tengok tangga jauh
dibawah, mataku sekian detik mulai terpengaruh dan setelah itu aku dapat
jawaban dari sang Teorema bahwa mungkin kata anda tidak akan berubah menjadi
kau ataupun kakanda selama anda masih sebut diri anda “Saya” kepada adekmu ini.
Ku
tnggu dibukit panorama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar