Senin, 24 Agustus 2015

ANDA, KAU DAN KAKANDA


Rasionalitas memang tak punya waktu untuk mengatur waktu kapan dia bertahan, menunggu sadarnya insan adalah hal yang sangat membosankan baginya.  Sampai suatu waktu sadarku sebagai insan terbit setelah terbenamnya sekian lama. Mematuhi iman yang kian badan runcingkan, siapa berani berkata iman sempurna jika bukan benar-benar ‘alim. ‘Alim-pun tak berani berkata imannya sempurna.
“Anda” adalah salah satu yang saya hormati, bahkan hingga kini rasa hormat-”ku”kepada anda kian meninggi  ketika anda tuliskan bacaan yang membuat-ku kian memuja. Bukan tampang yang buat muka ini diam terpesona, bukan badan yang buat hati ini berbunga. Hanya ilmu anda yang belum pernah ku lihat mengingat usia anda yang belum terbilang tua. Aku bangga pernah dan mencoba telah mengenal anda. Setidaknya orang sehebat anda pernah mengenalku jua, tahu namaku dan tahu siapa aku. Tapi satu yag anda belum tahu adalah tulisan ini.
Tulisan ini bukan tandaku memuja anda, aku tetap sesalu memuja-Nya seperti anda. Kita sama manusia, sama hamba-Nya, sama dengan satu agama, bedanya hanya saja Aku “me- “ dan anda “di- “ , ini hanya ulasan yang tak dapat kuceritakan pada semua telinga. Aku sadari aku pada pihak yang selalu hampir saru ketika memulai lebih dahulu daripada kaum anda. Memulai saja saru apalagi melebihi dari itu, sedikit saja aku lakukan anda sudah bersua. Memang salah aku akui, maaf jika tingkah kaumku zaman sekarang sudah tak mengenal saru, ya... akanku perbaiki. Aku tau dan anda cukup tau. Aku punya ilmu tak setinggi anda, tapi anda cukup tau bahwa aku belajar pada anda. Anda adalah panutanku, sampai orang sebut namamu saja aku terdiam tuk dengarkan.  Gelembung anganku timbul , anda jadi guru ngajiku tepat didepanku ketika bapak telah menghalalkan.  Anda benarkan bacaanku dan anda jelaskan ilmu agama yang belum kuketahui. Selama waktu ku dengarkan anda mengaji dbalik pintu kamar, ku dengar tawa kecil itu muncul meskipun tipis.mungkinkah anda tau? Ya ... Itulah aku! J
 Setidaknya aku tau bahwa ketika itu rasionalitas telah pergi dari benak.  Anda mungkin telah memuja yang lebih dariku, terpesona dengan yang lebih anggun dan naif. Dan kini rasionalitas telah kembali, membawa  fakta bahwa  itu normal untuk tinggi tangga yang telah anda naiki, karena jika anda ingin terus naik maka yang akan anda pandang adalah anak tangga diatas anda atau anak tangga sedikit dibawah anda, ya bukan?  Dan ketika waktu itu anda tengok tangga jauh dibawah, mataku sekian detik mulai terpengaruh dan setelah itu aku dapat jawaban dari sang Teorema bahwa mungkin kata anda tidak akan berubah menjadi kau ataupun kakanda selama anda masih sebut diri anda “Saya” kepada adekmu ini.
Ku tnggu dibukit panorama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

YANG AKAN KU SESALI KARENA MENULISNYA

   Hai, kali ini aku akan menulis curhatanku yang tak berguna. Tema curhatan yang sangat basi dikalangan pembaca yang meyakini bahwa jodoh p...