Melihat senyum
mereka dihari cerah ini, setidaknya keputusanku untuk melihat mereka membuahkan
hasil. Hanya dua detik yang aku perlukan untuk membuat salah satu dari mereka
tersenyum karenaku. Aku datang dengan kerinduan dan mereka menyambut dengan
kasing sayang. 4 jam perjalanan dari tempatku sebelumnya seperti sebuah lubang hitam yang dapat mengantarkanku
pada mereka dalam hitungan detik. Aku seperti lupa dengan lelahku mengendara,
lupa dengan lamanya waktu yang telah aku tempuh. Kau tahu bahwa senyum mereka
menghilangkan kekhawatiranku padanya. Wajah berseri mereka seperti
memperlihatkan bahwa mereka tidak terbebani lagi dengan masalah.
Aku masuk ke
dalam bangunan tua usang dengan cat warna hijau muda. Menjelajahi setiap sudut
yang lama takku pandang, menghirup aroma rumah ini seperti menghirup aroma
mawar dari yang kita cinta. Senyum menebar, kedua sudut bibirku kini naik ke
tengah pipi dengan mata yang memerah. “Mandi dulu gih” suaranya yang bagai
sutra menyudahi penjelajahan mataku pada rumah kecilku. Aku tersenyum padanya,
sebuah kecupan kecil kuhadiahi padanya yang berhati beku penuh amarah sebelum
aku beranjak pergi. Sekarang aku ingat
benar apa kerugian atas keraguanku, menahan tujuan yang benar-benar harus aku
gapai, setidaknya mencoba kata orang bijak.
Semua kembali
segar ketika melihat mereka berkumpul dengan senyum yang mengembang. Seperti
tanpa beban, apa yang tetap memberi mereka kekuatan seperti manusia tanpa beban
dunia. Dikejar dengan masalah yang sama selama 4 tahun dan mengincar nyawa
keluarga kami. Inikah yang disebut sabar? Atau bisa kita pasrah akan takdir
darinya? Entah.. Seperti hanya bara api
dupa dibawah kaki mereka tapi aku bisa melihat seberapa besar api itu. Memanggang
hati mereka dari sisa kehidupan di tempat yang fana ini. Mereka tertidur dengan
mata tertutup tapi siapa yang tahu ketika semua mata tertutup secara fisik
sebuah kata pencerminan muncul ditengah malam. “Fatimah” suara lembut itu
datang dari tempat duduk mereka. Aku
tersenyum sambil menghampiri mereka, sebuah sentuhan lembut menarik lenganku dan
mendekap badanku setengah berpelukan, hal yang aku rindukan. Dan mulailah kami bercerita, Aisyah banyak
mengambil bagian dalam perbincanagn kami. Menyelinginya dengan sebuah candaan
polos yang membuat kami tertawa lepas. Aku beruntung disamping mereka masih ada
adik kecilku yang berjiwa humor. Setidaknya dapat mengurangi beban mereka
selama aku masih di banker kecilku.
Aku hanya
ambil bagian bertanya dan tertawa. Mendengarkan mereka bercerita dan tersenyum
adalah salah satu kebahagiaanku. Mungkin ketika ada sebuah kata terindah
didunia dan diakui semua orang untuk pengganti kata “bahagia” aku akan gunakan
itu dalam tulisan ini. Sejenak aku
berfikir, mungkin ketika kita terlalu khawatir dengan masalah orang lain,
justru kitalah yang mempunyai masalah.