Rabu, 04 Februari 2015

KERAGUAN



00:14, kini aku tersadar bahwa aku sekarang sendiri. Disebuah banker yang aku huni selama 6 bulan terakhir. Mataku menatap langit-langit, mencoba menangkap suara dari luar kamar, apakah seorang datang?apakah bisa aku berbincang padanya malam ini?dapatkah dia menghilangkan keheningan ini?. Aku menangkap suara, sekarang aku rasa aku bergerak bangun dari tempat tidurku. Membuka pintu dan mencoba mencari asal suara itu, tidak ada langkah seseorang yang bisa aku lihat disepanjang lorong lantai dua gedung asrama. Hanya lampu depan samping kamarku yang menyinari lorong dua dan beberapa lampu yang menyumbang sedikit cahaya malam ini.  Setidaknya lampu itu mengundang 3 anak kucing bersuara, berlari tepat didepanku berlari seakan mereka saling mengejar. Tak aku sadari senyum mengembang di bibirku, mengingat besok aku akan bertemu dengan mereka. Penyemangat sejatiku, sekaligus sumber kegelisahanku. Kerinduanku pada mereka, seperti ingin aku kubur dalam-dalam. Aku ingin menghindari kesedihan mereka, sehebat apapun mereka menjadi artis pemeran sinetron, au tahu bahwa mereka sedang gelisah memikirkan masalah yang aku tahu masalah ini belum selesai sejak 4 tahun terakhir. Kesakitanku melihat mereka bersedih, kegelisahanku mencari cara menolong mereka seperti dosa yang terus mengejarku. Aku tak mau menerima itu, karena aku tak mau mereka seperti itu, menyiksa hati mereka. Tapi apa yang aku lakukan benar? Kebenaran itu yang harus aku cari.
Aku kembali masuk, membaringkan tubuh kecilku kembali diatas kasur tipis. Kembali kutatap langit, tapi kini dengan kegelapan. 00:21 tertera di jam HP-ku, aku tahu kalau aku harus tidur malam ini. Aku tak mau berfikir tentang kesedihan mereka, membayangkan wajah sedih mereka adalah hukuman terberat untukku. Aku tahu bahwa aku bisa membantu mereka dengan caraku, tapi seperti aku tak mau melakukannya. Entahlah, aku rasa itu bukan salahku dan harus aku tanggung. Ada seseorang yang aku tahu dengan sangat bahwa dialah yang harus menolong mereka. Oh bukan, dia bisa menolong pihak yang menyakiti mereka. Aku juga tahu pihak itu tidak sengaja membuat mereka dalam masalah ini. Tapi setidaknya orang itu tahu bahwa pihak lain itu melakukannya untuknya, untuk kesejahteraanya. Tanpa memikirkan keadaan kami, memikirkan apa yang harus kami lakukan untuk hari esok. Seperti dikejar pemburu kehidupan.
Sekarang dia duduk manis disebauh gedung mewah, memakai pakaian berhias emas. Itu menjijikkan, dengan keadaan mereka yang hanya berpakaian kain putih bernoda. Aku sangat ingat dia berkata akan membahagiakanku dengan keadaanya sekarang tanpa imbalan dariku. Tanpa imbalan dariku? “hem... apa dia pura-pura tidak tahu bahwa kebahagiannya adalah dari mereka yang aku cinta?dan sekarang dia ingin memberikan pada kami apa yang DIA PUNYA” sungguh prolog yang sangat mengesankan misiss nabila. Mungkin aku terlalu berprasangka kepada dia yang polos, aku rasa dia juga merasakan kesedihan mereka, tapi kelakuannya kepada kami adalah sebuah alasan untuk membencinya. Apa yang bisa aku lakukan? Baiklah aku akan bertemu dengan mereka, setidaknya aku bisa menghibur mereka dan mengembangkan senyum indah mereka untuk kami yang sudah lama hilang. ~~~~

YANG AKAN KU SESALI KARENA MENULISNYA

   Hai, kali ini aku akan menulis curhatanku yang tak berguna. Tema curhatan yang sangat basi dikalangan pembaca yang meyakini bahwa jodoh p...