Kau tak akan pernah tau apa yang
ada dihatinya pada awalnya, suatu ketika waktu itupun datang menyatakan
semuanya. Tentangnya, tentang semua di hidupnya dan seberpa besar kunciku jatuh
cinta padanya. Bukan wajah tampan macam alliando, fashionable macam kevin julio
atau pintar macam dedy corbusier atau apalah yang biasa menjadi penarik sang
hawa. Hanya saja apakah ini juga menjadi kunci-kunci yang digunakan untuk
banyak gembok? Mereka datang dengan pesona tegap tak menunduk, mencerahkan
semua gelap disekeliling mereka dan saat itu datang pada kami sang hawa yang
merindukannya. Kami terpesona, apalagi yang bisa kami lakukan?
Kami jelas
melihatnya, bukan bayangan yang banyak dilakukan yang lain dengan tipuan.
Karena kami bukan buta dengan hal itu, kami tau apa yang harus kami ketahui
untuk memilih. Dialah yang bercahaya, menerangi kami dan menuntun kami kepada
surgaNya. Lalu apa yang lain punya? Kami pernah melihatnya—cahaya itu. Tapi
kami tahu betul bahwa cahaya itu hanya pantulan kaca yang tak abadi ketika kaca
itu hancur. Cahaya palsu itu bukan menerangi kami, tapi membutakan mata kami
hingga kami tak mendapat pembeda. “Kau bertanya apa yang kami lakukan?”—“Kami
tetap melihanya, tapi dengan kaca mata hitam” J. “Apa?”—
“Kacamata hitam... iman yang kuat”.
Kami suka
mereka yang menghargai kami dengan nilai yang tak ada didunia ini, jauh diatas
nilai tertinggi dan lebih rendah dengan yang sang Maha punya nilai. Mereka yang
mengimaniNya, menyayangi ibunda ratu, dan menuntun kami. Menuju kemenangan
dinasti yang paling jaya. Bukan dinasti yang yeng atau apapun nama dinasti tapi
dinasti dengan satu raja, satu ratu, 2 pangeran mahkota dan 2 putri mahkota. 3
syarat yang tersirat bukan untuk menghilangkan yang lain, tapi melengkapinya.
Apa guna iman tanpa kasih sayang untuk hawa dan apa guna kasih sayang tanpa
iman yang melekat? Hanya sebuah lukisan tanpa gambar dan hanya lampu tanpa
cahaya.
Ketika kami
sudah menemukan sebagian diantara mereka, bagian dari kami menghilang.
Meningggalkan apa yang selama ini menjadi haluan kami. Bukan salah kami,
melepas mereka(anggota kami), menjadi penggerak seperti penggoda—itu
bukan kami, bukan kami dan sekali lagi bukan salah kami. Sang hawa hanya ingin dicinta dengan kasihnya,
bukan untuk menggodanya. Ketika mereka menuntut sang hawa indah didepannya,
itulah yang mereka fikirkan. Melepas mahkota mereka dan menggantinya dengan
topi ala boy band, mengganti gaun mereka dengan pakaian PARANTAT PENTURPIS
(transparan ketat pendek tur tipis)atau menghilangkan cahaya alami di wajah
mereka dengan cat yang lebih berwarna. Sekarang,
kami akui jika sebagian otak kami memang ditakdirkan untuk salah dalam hal ini.
Kami percaya bahwa tidak semua diantara mereka menginginkanya, melihat
keindahan dengan kesalahan tafsiran anggota kami. Kami percaya bahwa diantara
mereka menginginkan keindahan yang begitu sempurna sebagaimana menjadi
hambaNya, menjadi sumber pahala yang tak akan habis dengan mencintainya dengan
sebelumnya mengikatnya atas namaNya.