Sabtu, 19 Agustus 2017

RELASI

Mereka hidup selayaknya manusia. Mengandai bahwa mereka punya hati manusia, kebahagiaan pun ditebar. Dengan senyum merekah tanpa tahu apa yang mereka rasakan. “Senyum adalah ibadah” adalah prinsip yang mutlak untuk semua orang, tapi lupa bahwa “kesedihan perlu diringankan”. Dengan senyum ? mungkin benar. Dalam kasus yang saya tahu, senyum tak serta merta mengurangi kesedihan. Gampangnya, misal saya sedang bersedih karena nilai ujian mata pelajaran yang selama ini paling getol saya pelajari malah jeblok. Sebagaimana prinsip “senyum adalah ibadah”, saya tersenyum bagai tak ada masalah dalam hidup.  *Dan saat itu anda sedang membohongi diri sendiri.
Saya mengenal seseorang yang benar-benar ceria hampir setiap situasi. Ketika dia dimarahi dia hanya tersenyum, ketika dia dihianati dia mencari teman baru dan membagi senyumnya, ketika dia miskin dia menikmati setiap detiknya untuk hal baru, ketika semua diam dia memecah suasana dengan ceritanya. Tapi dalam situasi yang benar-benar dia tak dapat tersenyum, dia mencari kawan untuk membuatnya tersenyum. Jika tidak ada, dia diam merenung sampai ketenangan dan cerianya kembali. Hal ini yang saya pelajari darinya, tak pernah menyalahkan dan tak pernah mengorbankan. Dia memberi karena ingin mendapatkan tapi ketika dia tidak mendapatkan dia diam dan mencari lagi. Terus tanpa amarah yang terpendam. Orang-orang yang mempunyai alur hubugan seperti diatas cenderung disukai banyak orang tapi juga diirikan setiap orang. Perubahan dalam hidupnya hanya akan menjadi guncangan tak berarti. Sedihnya, kebanyakan orang seperti ini memiliki banyak rahasia dan sakit yang tidak diketahui beberapa temnya. 
Dalam kasus lain seseorang yang anti dengan penghianatan. Berteman dengan semua orang adalah prinsipnya. Semakin banyak teman maka semakin besar peluangnya berkompromi. Sama-sama memberi karena ingin mendapatkan. Sesuai dengan apa yang dia benci, penghianatan sekecil apapun baginya adalah sebuah penghianatan. Menentangnya, membicarakan kejelekannya, atau bahkan menjadi *kolega orang lain yang lebih baik darinya terhitung sebuah penghianatan yang dia benci. Ini adalah kejelekanya, bagusnya manusia ini masih punya sedikit rasa kepemimpinan. Dia berpikir dengan kebahagiaan orang lain, berusaha membahagiakanya, membuat mereka tersenyum meskipun kadang kala caranya tidak seperti umumnya.  Orang seperti ini seperti lilin, suatu saat dia akan musnah. Dan kegelapan tidak bisa menolongnya.  Selamatkan mereka, dendam adalah senjatanya, ingatlah bahwa lilin itu dulu mempunyai api. Tidak menutup kemungkinan dia bangkit dan menghancurkan semuanya.
Ada kalanya keuntungan dapat saling didapat. Tidak perlu menjadi orang yang selalu tersenyum tanpa tau diri, tidak perlu jadi lilin yang menyala untuk orang lain. Cari teman yang benar-benar tak tau malu denganmu  bukan memalukanmu, cari teman yang dapat membuatmu jadi dirimu sendiri bukan jadi bonekanya, cari teman yang menarikmu baik bukan memperbaikimu, cari teman yang mengatakan kamu salah bukan menyalahkanmu, cari teman yang mengatakan kamu benar bukan membenarkanmu. Jadikan mereka kenal dirimu bukan hanya tahu dirimu, jadikan mereka nyaman tanpa lupa kenyamananmu. Jangan pernah bergantung karena dapat mengurungmu.

Cerita ini saya tulis dengan pengetahuan pribadi saya, jadi tidak ada penelitian berarti dalam tulisan ini. Hanya kenali teman disekitar anda, atau diri anda sendiri. 

YANG AKAN KU SESALI KARENA MENULISNYA

   Hai, kali ini aku akan menulis curhatanku yang tak berguna. Tema curhatan yang sangat basi dikalangan pembaca yang meyakini bahwa jodoh p...